Mangkok ini bukan sembarang mangkok. Mangkok yang dinilai sekitar 300 juta ini merupakan mangkok peninggalan Dinasti Ming China. Berikut beritanya.
Harga lelang Benda Muat Kapal Tenggelam (BMKT) yang didapat dari pengangkatan kapal tenggelam, seperti kapal Tiongkok, ternyata cukup mahal. Misalnya mangkok yang berasal dari Dinasti Ming, bisa mencapai Rp 200-300 juta.
"Kalau harganya variasi memang sesuai peminat. Misalnya saya tanya harga 1 mangkok itu ada yang bilang Rp 300 juta, dan ada juga yang bilang Rp 200 juta," ungkap Kasubid Pendayagunaan Sumber Daya Kelautan Ditjen Kelautan dan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Rusman Hariyanto kepada detikFinance, Senin (16/02/2015).
Menurut Rusman, harga itu bisa jauh lebih mahal bila stok benda serupa kosong di pasaran internasional. Para kolektor nantinya bisa bebas menawar berapa pun, harga dari benda yang dinilai unik dan bernilai sejarah itu.
"Nilai itu tergantung pasaran di luar negeri berapa. Kalau di pasaran sudah jenuh (stok banyak) harga akan turun. Para pemainnya itu seperti itu. Kalau lagi kosong harga naik," imbuhnya.
Biasanya, proses lelang harta karun dari kapal tenggelam dilakukan di dalam negeri. Namun dari sekian banyak lelang yang dilakukan, pembeli terbanyak justru datang dari luar negeri, seperti Jerman dan Tiongkok. Pembeli dari dalam negeri masih minim karena berbagai alasan.
"Kalau lelang pasti di dalam negeri. Nanti dijual biasanya pengalaman pembeli datang dari luar negeri. Pembeli dari Tiongkok dan Jerman paling siap, mereka melihat barangnya antik dan tidak akan keluar lagi, serta kaitannya dengan sejarah Tiongkok masa lalu. Itu yang membuat nilai jual di luar lebih tinggi sehingga nilai mahal. Kalau di kita minatnya masih sedikit," tuturnya.
"Kalau harganya variasi memang sesuai peminat. Misalnya saya tanya harga 1 mangkok itu ada yang bilang Rp 300 juta, dan ada juga yang bilang Rp 200 juta," ungkap Kasubid Pendayagunaan Sumber Daya Kelautan Ditjen Kelautan dan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Rusman Hariyanto kepada detikFinance, Senin (16/02/2015).
Menurut Rusman, harga itu bisa jauh lebih mahal bila stok benda serupa kosong di pasaran internasional. Para kolektor nantinya bisa bebas menawar berapa pun, harga dari benda yang dinilai unik dan bernilai sejarah itu.
"Nilai itu tergantung pasaran di luar negeri berapa. Kalau di pasaran sudah jenuh (stok banyak) harga akan turun. Para pemainnya itu seperti itu. Kalau lagi kosong harga naik," imbuhnya.
Biasanya, proses lelang harta karun dari kapal tenggelam dilakukan di dalam negeri. Namun dari sekian banyak lelang yang dilakukan, pembeli terbanyak justru datang dari luar negeri, seperti Jerman dan Tiongkok. Pembeli dari dalam negeri masih minim karena berbagai alasan.
"Kalau lelang pasti di dalam negeri. Nanti dijual biasanya pengalaman pembeli datang dari luar negeri. Pembeli dari Tiongkok dan Jerman paling siap, mereka melihat barangnya antik dan tidak akan keluar lagi, serta kaitannya dengan sejarah Tiongkok masa lalu. Itu yang membuat nilai jual di luar lebih tinggi sehingga nilai mahal. Kalau di kita minatnya masih sedikit," tuturnya.
Sumber berita: di sini

0 Response to "Wow... Mangkok Ini Dihargai Rp 300 Juta"
Post a Comment